Memaksimalkan Fungsi Polder Tawang
Semarang merupakan
salah satu kota di utara Pulau Jawa yang sering dilanda bencana banjir, baik
dari air hujan maupun banjir rob. Hal ini terjadi disebabkan oleh naiknya
permukaan laut yang disertai dengan faktor tanah yang labil sehingga mengalami
penurunan setiap tahunnya. Pendangkalan sungai juga berpengaruh besar terhadap
banjir yang sering melanda Semarang.
Salah satu dari daerah
rawan banjir di Kota Semarang adalah sekitar Kawasan Stasiun Tawang, stasiun
yang identik dengan lagu keroncong asli Semarang dengan judul Gambang Semarang itu.
Berhubungan dengan hal ini, tepat di depan tempat lagu itu berputar, terdapat
satu area pelindung air limpahan yang biasa disebut polder, Polder Tawang lebih
tepatnya. Area seluas + 1 ha ini mencakup daerah sekitar sebagai
penampung limpahan seluas + 70 ha. Polder ini didukung beberapa komponen
penting diantaranya sebagai berikut: kolam retensi, pompa (sebagai jantung
polder), tanggul, kolektor, pipa saluran besi, dan pintu air. Tidak sedikit
dana yang di gelontorkan guna pembangunan polder ini, bahkan mencapai miliaran rupiah.
Mubazir sekali bila pembangunan dengan dana sebanyak itu tidak berfungsi secara
optimal.
Dalam kaitannya dengan
tata ruang, Polder Tawang merupakan tempat transit dari beberapa tempat,
meliputi Stasiun Tawang, Kota Lama, Taman Sri Gunting, dan bahkan Kawasan
Pecinan. Hal ini erat kaitannya dengan elemen pembentuk citra kota khususnya nodes (Teori Kevin Lynch) yang berarti
simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah dan aktivitasnya saling
bertemu untuk diubah menuju aktivitas lainnya.
Kurang Berfungsinya
Polder Tawang
Sejak awal tujuan dari
polder tersebut adalah sebagai pemroteksi air limpahan dari sekitar Stasiun
Tawang yang selanjutnya di alirkan ke laut via kali Semarang. Tetapi hal itu
tak sesuai rencana awal pembangangunan. Air tetap tergenang karena kurang
berfungsinya pompa dan saluran yang semestinya digunakan sebagai aliran menuju
Kali Semarang. Sekilas memang tidak ada kekurangan dari Polder Tawang di
seberang jalan Stasiun Tawang itu, tetapi setelah di cermati lebih lanjut
kekurangan tampak pada air polder. Genangan air pada area tersebut berwarna
hitam pekat dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Di tambah lagi dengan adanya binatang-binatang
kecil di sekitar tanggul dari polder tersebut yang jumlahnya banyak, dan hampir
mengelilingi sekitar area tersebut. Hal ini terjadi disebabkan oleh tidak
mengalirnya air pada polder melalui saluran yang semestinya di pompa oleh pompa
polder, sehingga hal yang demikian itu menyebabkan air hanya tergenang tanpa
ada pergerakan. Terlebih saat hujan datang, air polder meluap yang
ujung-ujungnya membanjiri kawasan sekitar. Hal ini justru melenceng dari tujuan
awal pembangunan, yang semestinya menjadi pemroteksi limpahan air, menjadi
pembuat limpahan air dari polder itu sendiri.
Optimalisasi pompa
harus diterapkan kembali guna penanganan hal ini. Pengelolaan polder secara
baik memungkinkan air menjadi jernih yang imbasnya adalah polder lebih enak
dipandang mata. Bukan tidak mungkin Polder Tawang akan menjadi destinasi wisata
sebagai pelengkap Kota Lama yang di dalamnya juga terdapat Taman Sri Gunting
sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Kombinasi destinasi wisata ini berpeluang
besar dapat terwujud mengingat letak polder yang strategis, persis di depan
Stasiun Tawang, tempat dimana hilir mudik penumpang dari berbagai penjuru
negeri.
Tidak ada salahnya bila
polder di jadikan sebagai destinasi wisata, toh jarak Polder Tawang sendiri
tidak begitu jauh dari Kota Lama. Mengingat ada ruang terbuka hijau (RTH) Sri
Gunting yang dapat menjadi pelengkap dan daya tarik tersendiri dari kombinasi
destinasi wisata Polder Tawang-Kota Lama.
Melengkapi Sarana dan
Prasarana
Sarana
prasarana polder berhubungan langsung dengan citra suatu kota yang berarti juga
sebagai kesan, persepsi antara lingkungan dengan pengamatnya. Kesan yang di
dapat tergantung pada kemampuan beradaptasi pengamat dalam menyeleksi, hingga lingkungan
yang diamati akan memberikan keterhubungan dan perbedaan dengan destinasi
lainnya. Hal ini dapat di tempuh dengan menambahkan tempat pemancingan bagi
pengunjung, penambahan penghijauan untuk menambah keteduhan, serta konsep penerangan
yang intensif dan kreatif guna memberikan citra dari Polder Tawang. Sehingga
para pengunjung tak hanya mengetahui nama dan tempat dari polder saja, tetapi
yang lebih di tekankan disini adalah citra Polder Tawang yang berkualitas
dengan daya dukung yang membuat pengunjung terkesan dan ingin kembali lagi suatu
saat . Perbaikan drainase sekitar polder yang banyak menimbun sampah, sehingga
menimbulkan tersumbatnya aliran air yang berpeluang besar menyebabkan bau
menyengat, terlebih lagi banjir. Perbaikan jalan dari polder menuju Kota Lama
juga harus diperhatikan. Tak hanya cukup sampai di situ, penempatan parkir
kendaraan juga perlu di kaji lebih lanjut guna realisasi yang signifikan dan
mumpuni.
Hal terpenting yang
harus di tinjak lanjuti adalah optimalisasi polder sebagai pelindung dari
kiriman air wilayah sekitar beserta alirannya agar air tidak hanya tergenang,
melainkan ada sebuah pergantian air secara berkala dari air hujan berikutnya
sebagai alternatif pencegahan warna yang hitam dan bau yang menyengat di
sekitar kawasan Polder Tawang. Jika optimalisasi sudah berjalan sesuai
prosedur, maka rencana untuk memaksimalakan Polder Tawang dengan tujuan sebagai
destinasi pelengkap Kota Lama secara perlahan akan terealisasi. Dengan begitu,
Polder Tawang kembali pada fungsinya lengkap juga dengan fungsi barunya sebagai
destinasi pelengkap Kota Lama yang pada akhirnya berimbas pada meningkatnya
devisa daerah atau pendapatan bagi Kota Semarang melalui sektor pariwisata.
amazing
BalasHapus