Breaking News
Loading...
Kamis, 12 Januari 2017

Memaksimalkan Fungsi Polder Tawang


Semarang merupakan salah satu kota di utara Pulau Jawa yang sering dilanda bencana banjir, baik dari air hujan maupun banjir rob. Hal ini terjadi disebabkan oleh naiknya permukaan laut yang disertai dengan faktor tanah yang labil sehingga mengalami penurunan setiap tahunnya. Pendangkalan sungai juga berpengaruh besar terhadap banjir yang sering melanda Semarang.
Salah satu dari daerah rawan banjir di Kota Semarang adalah sekitar Kawasan Stasiun Tawang, stasiun yang identik dengan lagu keroncong asli Semarang dengan judul Gambang Semarang itu. Berhubungan dengan hal ini, tepat di depan tempat lagu itu berputar, terdapat satu area pelindung air limpahan yang biasa disebut polder, Polder Tawang lebih tepatnya. Area seluas + 1 ha ini mencakup daerah sekitar sebagai penampung limpahan seluas + 70 ha. Polder ini didukung beberapa komponen penting diantaranya sebagai berikut: kolam retensi, pompa (sebagai jantung polder), tanggul, kolektor, pipa saluran besi, dan pintu air. Tidak sedikit dana yang di gelontorkan guna pembangunan polder ini, bahkan mencapai miliaran rupiah. Mubazir sekali bila pembangunan dengan dana sebanyak itu tidak berfungsi secara optimal.
Dalam kaitannya dengan tata ruang, Polder Tawang merupakan tempat transit dari beberapa tempat, meliputi Stasiun Tawang, Kota Lama, Taman Sri Gunting, dan bahkan Kawasan Pecinan. Hal ini erat kaitannya dengan elemen pembentuk citra kota khususnya nodes (Teori Kevin Lynch) yang berarti simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah dan aktivitasnya saling bertemu untuk diubah menuju aktivitas lainnya.
Kurang Berfungsinya Polder Tawang
Sejak awal tujuan dari polder tersebut adalah sebagai pemroteksi air limpahan dari sekitar Stasiun Tawang yang selanjutnya di alirkan ke laut via kali Semarang. Tetapi hal itu tak sesuai rencana awal pembangangunan. Air tetap tergenang karena kurang berfungsinya pompa dan saluran yang semestinya digunakan sebagai aliran menuju Kali Semarang. Sekilas memang tidak ada kekurangan dari Polder Tawang di seberang jalan Stasiun Tawang itu, tetapi setelah di cermati lebih lanjut kekurangan tampak pada air polder. Genangan air pada area tersebut berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.  Di tambah lagi dengan adanya binatang-binatang kecil di sekitar tanggul dari polder tersebut yang jumlahnya banyak, dan hampir mengelilingi sekitar area tersebut. Hal ini terjadi disebabkan oleh tidak mengalirnya air pada polder melalui saluran yang semestinya di pompa oleh pompa polder, sehingga hal yang demikian itu menyebabkan air hanya tergenang tanpa ada pergerakan. Terlebih saat hujan datang, air polder meluap yang ujung-ujungnya membanjiri kawasan sekitar. Hal ini justru melenceng dari tujuan awal pembangunan, yang semestinya menjadi pemroteksi limpahan air, menjadi pembuat limpahan air dari polder itu sendiri.
Optimalisasi pompa harus diterapkan kembali guna penanganan hal ini. Pengelolaan polder secara baik memungkinkan air menjadi jernih yang imbasnya adalah polder lebih enak dipandang mata. Bukan tidak mungkin Polder Tawang akan menjadi destinasi wisata sebagai pelengkap Kota Lama yang di dalamnya juga terdapat Taman Sri Gunting sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Kombinasi destinasi wisata ini berpeluang besar dapat terwujud mengingat letak polder yang strategis, persis di depan Stasiun Tawang, tempat dimana hilir mudik penumpang dari berbagai penjuru negeri.
Tidak ada salahnya bila polder di jadikan sebagai destinasi wisata, toh jarak Polder Tawang sendiri tidak begitu jauh dari Kota Lama. Mengingat ada ruang terbuka hijau (RTH) Sri Gunting yang dapat menjadi pelengkap dan daya tarik tersendiri dari kombinasi destinasi wisata Polder Tawang-Kota Lama.
Melengkapi Sarana dan Prasarana
            Sarana prasarana polder berhubungan langsung dengan citra suatu kota yang berarti juga sebagai kesan, persepsi antara lingkungan dengan pengamatnya. Kesan yang di dapat tergantung pada kemampuan beradaptasi pengamat dalam menyeleksi, hingga lingkungan yang diamati akan memberikan keterhubungan dan perbedaan dengan destinasi lainnya. Hal ini dapat di tempuh dengan menambahkan tempat pemancingan bagi pengunjung, penambahan penghijauan untuk menambah keteduhan, serta konsep penerangan yang intensif dan kreatif guna memberikan citra dari Polder Tawang. Sehingga para pengunjung tak hanya mengetahui nama dan tempat dari polder saja, tetapi yang lebih di tekankan disini adalah citra Polder Tawang yang berkualitas dengan daya dukung yang membuat pengunjung terkesan dan ingin kembali lagi suatu saat . Perbaikan drainase sekitar polder yang banyak menimbun sampah, sehingga menimbulkan tersumbatnya aliran air yang berpeluang besar menyebabkan bau menyengat, terlebih lagi banjir. Perbaikan jalan dari polder menuju Kota Lama juga harus diperhatikan. Tak hanya cukup sampai di situ, penempatan parkir kendaraan juga perlu di kaji lebih lanjut guna realisasi yang signifikan dan mumpuni.
Hal terpenting yang harus di tinjak lanjuti adalah optimalisasi polder sebagai pelindung dari kiriman air wilayah sekitar beserta alirannya agar air tidak hanya tergenang, melainkan ada sebuah pergantian air secara berkala dari air hujan berikutnya sebagai alternatif pencegahan warna yang hitam dan bau yang menyengat di sekitar kawasan Polder Tawang. Jika optimalisasi sudah berjalan sesuai prosedur, maka rencana untuk memaksimalakan Polder Tawang dengan tujuan sebagai destinasi pelengkap Kota Lama secara perlahan akan terealisasi. Dengan begitu, Polder Tawang kembali pada fungsinya lengkap juga dengan fungsi barunya sebagai destinasi pelengkap Kota Lama yang pada akhirnya berimbas pada meningkatnya devisa daerah atau pendapatan bagi Kota Semarang melalui sektor pariwisata.


Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

1 komentar:

Copyright © 2017 Ardian's Note All Right Reserved
Designed by Ardian Aji Wirawan